about

22 Sep 2012

Dear mr.Time

     Dear Mr.Time, sebegitu niatkah kamu ingin bermain denganku? Bukan, bukan denganku. Tapi dengan hati dan cara berpikirku.

     Dear Mr. Time, jika jawabanmu iya, mari kita bermain. Tapi tunggu, ada syaratnya. Jawab dulu pertanyaan2 ambigu-mu untukku yang kau titipkan melalui sang angin. Yang aku sendiri pun tidak tahu apa dan bagaimana menjawabnya. Dan aku tidak tahu tempat untuk mencari.
     Dear Mr.Time, masihkah kamu ingin bermain denganku? Tapi maaf, kali ini aku harus mengibarkan bendera putih lebih dulu. Karena aku sudah mulai bingung, bukan mulai. Tapi memang dan sudah bingung dengan arah permainan kita.
     Dear Mr.Time, maaf jika mungkin aku yang mengajakmu lebih dulu untuk masuk ke permainanku. Terlalu menikmati setiap menit yang kau berikan, setiap malam yang kau berikan hanya untuk kulalui dengan  segelintir percakapan gila penuh harapan dengan "manusia" itu. Maaf juga karena aku sering, bahkan mungkin selalu menyia-nyiakan mu, dan anak2 kesempatan yang kau berikan untukku dan manusia itu. Karena ternyata, tanpa aku sadari permainan itu berbalik mempermainanku sekarang. Aku baru sadar, bahwa kau mulai menyerangku balik sekarang. Waktu ini. Iya kan?
     Menyerangku balik sekaligus menyadarkan aku bahwa kamu berhasil membuat aku bingung. Aku yg dulu bingung dengan bagaimana aku besok. Besok yang berarti sekarang. Dan sekarang? Kau sangat-sangat berhasil, Sir! Yang ini lebih bingung sekaligus "free" pain. Membuatku benar-benar merasa bodoh menyia-nyiakan yang dulu. Membuatku merasa benar-benar bingung dengan keadaan dan semua kebetulan yg terjadi baik dulu maupun sekarang.
     Dear Mr.Time, jika aku boleh meminta, maukah kau menyelesaikan permainan ini? Tolong. Sekalipun aku tahu aku yang memulai. Tapi tolong, maukah kau mengakhirinya untukku? Kali ini aku bukan meminta, tapi memohon. Aku mohon. Aku hanya lelah dengan semua permainan ini, kenyataan yang ada, tapi nyatanya kosong. Tolong.
     Dear Mr.Time, jika memang kamu tidak berkenan mengabulkan permohonanku, dan mengharuskan aku sendiri yang mengakhiri, bolehkah aku memohon satu hal? Pinjami aku mesin waktu terbaikmu. Aku mohon. Hanya agar aku bisa menyelesaikan semua yang seharusnya sudah selesai dengan baik. Hanya agar aku bisa memperbaiki yang seharusnya tidak terjadi. Hanya agar, hanya agar, hanya agar. Hanya agar, aku tidak tahu hanya agar apalagi. Yang jelas aku butuh alat itu. Karena kembali ke masa itu, tanpa mesin terbaikmu itu, suatu hal yang tidak mungkin kan?
     Dear Mr.Time, jika kamu tidak berkenan meminjami ku alat yang itu juga, aku mohon kabulkan yang ini. Maukah kamu kembali sebentar ke masa itu, hanya sekedar mampir mungkin. Mampir untuk mencabutnya dari kehidupanku yang lalu. Agar aku tidak perlu mengenalnya sekarang. Hanya agar aku tidak akrab dengan semua kata penyesalan. Dan yang paling penting, hanya agar aku tidak perlu membuangmu dengan sia-sia lagi sekarang. Aku mohon. Tolong.
     Dear Mr.Time, jika kamu mencari, aku disini. Masih disini. Tetap disini. Menunggu kau kembali memberikan kunci berharga antara aku, dan kamu. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar